السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bagaimana kita memilih seorang pemimpin yang baik
“Salah seorang dari kedua putri Ya’kub berkata: wahai ayahku, pekerjakanlah ia (Musa as), karena sesungguhnya orang yang paling layakdiberi pekerjaan adalah orang yang kuat (professional) dan dapat dipercaya dan dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashash: 26).
“Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah saatnya (kehancuran). Abu Hurairah bertanya: bagaimana cara amanat disia-siakan wahai Rasulullah? Rasul menjawab: Jika suatu perkara (amanat/pekerjaan) diserahkan kepada orang yang tidak professional, maka tunggulah saat (kehancuran)-nya. (HR. Bukhâri).
Dalam konteks sekarang, salah satu bentuk penyalah gunaan amanat adalah prilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ketiganya sangat berpotensi mengabaikan prinsip profesionalisme dan integritas moral.
orang yang alim dalam bidang agama (faa’lamuhum bi as-sunnah). Hal ini diasumsikan dengan orang yang memilki pengetahuan luas (broad knowledge) dan tidak terkungkung dalam kepemimpinannya. Pemimpin yang berwawasan sempit dan picik akan menimbulkan efek menyengsarakan orang yang dipimpin. Ketiga, orang yang paling dahulu hijrahnya (faaqdamuhum hijratan), dianalogikan sebagai orang yang berani melakukan reformasi. Karena makna hijrah dan makna reformasi sangatlah mirip, yaitu perubahan mendasar dengan tujuan perbaikan dalam masyarakat. Keempat, orang yang paling tua usianya (faaqdamuhum sinnan), diilustrasikan dengan orang yang berpengalaman. Kepemimpinan belum akan sempurna manakala dipimpin oleh orang yang belum berpengalaman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar