السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Beramalah sebanyak mungkin, dan pilihlah amal yang dapat kamu kerjakan secara berkesinambungan (mudâwamah). Jangan remehkan satu amal pun yang pernah kau kerjakan. Sebab, setelah Imam Ghazâlî wafat, seseorang bermimpi bertemu dengannya dan bertanya, “Bagaimana Allâh memperlakukanmu?”.
“DIA mengampuniku,” jawab Imam Ghazâlî.
“Amal apa yang menyebabkan Allâh mengampunimu?”
“Suatu hari, ketika aku sedang menulis, tiba-tiba seekor lalat hinggap di penaku. Kubiarkan ia minum tinta itu hingga puas.”
Ketahuilah, amal yang bernilai tinggi adalah amal yang dianggap kecil dan dipandang remeh oleh nafsu. Adapun amal yang dipandang mulia dan bernilai oleh nafsu, pahalanya dapat sirna, baik karena pelakunya, amalnya itu sendiri ataupun karena orang lain yang berada di sekitarnya.
Sekedar memungut sampah permen, sekedar mengucap salam kepada sesama muslim yang belum kita kenal, sekedar senyum pada sahabat kita, tak ada yang tersia insya'allah. Jika kita bisa melakukan amal-amal ringan, kenapa harus menunggu kesempatan untuk beramal besar? Bukankah juga Allah itu menyukai amalan yang berkelanjutan meskipun sedikit?
Boleh jadi amalan kecil yang pernah kita lakukan adalah amalan paling ikhlas sehingga bisa menyelamatkan kita di hari akhirat kelak. Boleh jadi ia pelindung kita dari siksa kubur. Boleh jadi ia perantara doa kita dikabulkan. Boleh jadi ia penghapus dosa-dosa kita.
Mari perbanyak amal, tidak harus amal-amal besar nan luar biasa. Perbanyaklah amal karena kita tidak tahu mana amal paling ikhlas yang diterima Allah. Di antara sekian banyak amal, mungkin saja justru amal kecil yang sangat ikhlas yang akan menghantarkan kita masuk surga meraih keridhoan Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar